RIWAYAT HIDUP KYAI NANGKA

Maqbaroh kyai Nangka - Tana Mera Saronggi. Sumber: Arsip Lajnah Ziaroh MDWI Bumi Sholawat
Maqbaroh kyai Nangka – Tana Mera Saronggi. Sumber: Arsip Lajnah Ziaroh MDWI Bumi Sholawat

 

Harumnya aroma ilmu bagai buah nangka

Oleh: As-Syaikh Lukman Haris Rahman As-Syatthor

Angin sepoi-sepoi membuat sejuk suasana bukit kecil bebatuan yang di kenal dengan istilah bukit palanggaran , di lereng bukit bebatuan itu ada orang yang sudah lanjut usia sedang bertafakur asyik dengan dzikir dan muraqabah beliau di sebut Kyai palanggaran yang bernama Abi shaleh , seorangpun guru agama Islam asal desa talang Saronggi yang hijrah ke lereng bukit bebatuan di daerah korbi pagar batu .
Saat asyik asyiknya bertafakur datanglah sang putra yang dicintainya yang bernama kyai Sika siha yang berdakwah di desa lemah Abang atau Tanamera .

Romo ananda datang sowan ke sini mengganggu tafakur ramanda tiada lain ingin doa untuk anak ananda yang ada dalam rahim istri anandayang sekarang mendekati kelahirannya …..kata Sika siha pada ramndanya . Anakku , apabila bila putramu sudah lahir beri nama dia ” Said ‘ agar memperoleh keberuntungan dunia akhirat , dan kudoakan dia menjadi anak shaleh yang ahli ilmu ” jawab Kyai sepuh yang sedang tafakur di lereng bukit .

Hari berganti hari , bulan berganti bulan sampailah pada saat-saat kelahiran istri tercinta , kyai muda Sika siha selalu bermunajat dan berdzikir kepada Allah SWT agar istri dan cabang bayinya lahir dengan selamat dan kelak anaknya menjadi anak yang shaleh lagi berilmu ….

Dengan izin Allah SWT bakda subuh yang penuh berkah lahirlah sebuah momongan yang di nanti nanti bayi laki-laki yang lucu , seperti wasiat ramndanya bayi tersebut di beri nama Muhammad said …..

Sa’id muda tumbuh menjadi anak-anak pada umumnya seusianya , tetapi keunikan sudah terjadi yaitu cintanya Sa’id muda pada ilmu agama .

Sejak kecil sudah terbiasa ngaji pada ayahnya di langgar bersahaja , sampai mengharamkannya Al Qur’an di usia belia yang jarang terjadi pada anak anak seusianya di zamannya .

Sebelum menginjak usia baligh oleh orang tuanya di titipkan pada Kyai Waskita saat itu yaitu kyai Ali brambang yang masyhur dengan Kyai punya banyak karomah diantaranya dapat melahirkan kera baca Al Qur’an .

Di pesantren brambang Sa’id muda sangat tekun menuntut ilmu pada sang guru yang merupakan masih kerabatnya .

Di pesantren brambang Sa’id muda belajar ilmu Al-Qur’an , ilmu fiqih dan ilmu tashawuf , karena Kyai Ali adalah putra Kyai khatib padusan , Kyai khatib padusan mempunyai adik perempuan bernama nyai sonte yang merupakan nenek Sa’id muda .

Setelah beberapa tahun belajar dan berkhidmat pada Kyai Ali brambang beliau di dampingi ayahnya berpamitan pulang pada sang kyai , sang kyai berpesan agar Sa’id muda selalu mengamalkan ilmu yang di dapat di pesantren agar menjadi orang yang berguna masyarakat dan agama .

Setelah beberapa hari ada di rumahnya lemah Abang / Tanamera Sa’id muda tak dapat menahan rasa hausnya pada ilmu sehingga dia ingin belajar lagi di pesantren yang lebih bergengsi saat itu yaitu pesantren kokkowan yang terletak di desa guluk Manjung sekarang masuk distrik kecamatan Bluto .

Pesantren kokkowan merupak pesantren bergengsinya kala itu , di katakan kokkowan asal kata dari kokoh , karena para ulama dan kyai di Sumenep tidak sah keilmuannya apabila tidak di kukuhkan oleh kyai kokkowan , pesantren kokkowan kala itu di asuh Kyai Syafiuddin putra Kyai Abdul Karim dan nyai sariyah ، nyai sariyah putri Kyai Sanusi radang .

Kyai Syafiuddin terkenal kealimannya baik’ dari segi ilmu alat seperti nahwu Sharaf yang langka kala itu dan ilmu fiqih , dalam ilmu tashawuf beliau pengamal syathoriyah dan akmaliah .

Sa’id muda di pesantren kokkowan terkenal dengan ketekunannya dalam menelaah kitab-kitab yang di pelajari dari sang kyai , di sela sela waktunya dia menyendiri untuk menulis naskah naskah kitab klasik karya ilmiah ulama terdahulu atau menulis karya ilmiah kitab sendiri , tempat menyendiri beliau dalam mengarungi lautan ilmu biasanya di bawah pohon beringin yang banyak tumbuh di lereng lereng bukit kokkowan .

Kemahirannya dalam ilmu dan ketekunannya beliau menuntut ilmu membuat decak kagum sang guru …..
Di kokkowan juga lah beliau mengasah diri dengan ilmu tasawuf dengan metode Akmaliah Nya .

Dari kekaguman sang guru beliau di minta sang guru untuk mempersunting putrinya yang bernama nyai roti .
Setelah melangsungkan akad nikah dengan putri Kyai Syafiuddin , Sa’id muda yang tumbuh menjadi dewasa memboyongnya istrinya pulang ke kampung halaman nya di tanah merah …

Setelah mukim di tanah merah beliau dengan sang ayah Kyai Sika siha membangun pesantren tempat untuk menimba ilmu .

Di sela sela kesibukannya mengajar ngaji dan membimbing umat beliau tetap belajar karena beliau seorang kyai alim yang selalu haus pada ilmu .

Beliau selalu sowan dalam rangka menuntut ilmu pada uwaknya yang bergelar kyai tasek, untuk ilmu Kanuragan dan ilmu sejati ( tasawuf ) , Kyai tasek yang bernama kyai Muhammad Saleh adalah saudara tua kyai Sika siha tetapi lain ibu , ibu kyai Sika berasal dari parsanga yang bernama nyai sonte .

Meskipun dalam keilmuannya kyai Sa’id terkenal dengan ketawaduannya atau rendah hati , beliau tidak suka menonjolkan diri , bahkan sehari harinya beliau berkasab menjadi ketua tukang bangunan .
Bahkan beliau selalu mewanti wanti pada anak dan muridnya untuk selalu tidak menonjolkan diri dan kewalian tidak di tonjolkan agar tidak jatuh dalam pandangan Allah SWT .

Ilmu itu di amalkan bukan untuk di tonjolkan, kalo selalu di tonjolkan berarti dia pemer yaitu riya’ jauh’dari keikhlasan itulah wejangan dan petuahnya yang selalu di wasiatkan pada anak anak nya dan murid-muridnya .

Dari ketawaduannya beliau suatu saat ada seorang habib dari Bondowoso yang berkeliling dakwah di kadipaten Sumenep , dari kejauhan melihat beliau sedang memahat kayu bangunan di atas gedung bangunan , di lihat sang habib , sang habib takjub dan mundur beberapa langkah sambil bergumam pada pengiringnya : ada wali besar Mastur ( menutupi dirinya seakan akan bukan wali ) ….

Di pusat kota kadipaten Sumenep setelah sang sultan yaitu panembahan sumolo yang bernama asli asiruddin rampung membangun masjid yang megah , dengan bercorak arsitektur Jawa , Arab , Inggris dan Cina .

Dengan bangga panembahan sumolo ingin meresmikan masjid megah tersebut dengan mengundang para ulama dan kyai se kadipaten Sumenep .

Setelah para kyai berkumpul , mereka di suruh shalat di depan , dan gamelan di tabuh di shaf paling belakang .

Gamelan di tabuh dengan alunan tembang yang di bawakan bertalu Talu …. setelah shalat , kemudian sang panembahan di dampingi para Patih dan anggayuda berdiri untuk menyampaikan pidato peresmian , di tengah tengah pidato peresmian beliau bertanya kepada para kyai : adakah para kyai yang berkumpul di sini waktu shalat tadi yang mendengar bunyi alunan musik gamelan ? Semuanya bungkam dan merasa tidak mendengar , akan tetapi ada Kyai bersahaja dan sangat sederhana berdiri dan mengatakan dengan jujur dan polos ” saya Kanjeng panembahan , saya sangat jelas mendengar alunan musik gamelan tadi ….

melihat kepolosan dan kejujuran kyai sederhana ini , lantas sang panembahan menghampirinya dan memeluknya , seraya berkata ; engkau orang berilmu yang mengamalkan ilmunya yaitu berani terus terang dan jujur , sebenarnya ilmu dalam dan harum bagai buah nangka ….. dengan sabda pandita ratu , para hadirin baik kalangan bangsawan , Patih dan kyai bergumam : bak nangka harumnya Kyai nangka , oleh sebab itu masyhurlah beliau dengan sebuah Kyai nangka ….. kemudian beliau di tawarin jabatan oleh sang panembahan akan tetapi beliau menolak dengan halus dan sopan santun.

Ada riwayat lain ; masyhunya nama dengan Kyai nangka karena , beliau menanam biji ( manjilan ) nangka tumbuh sekarang juga dan berbuah sekarang juga ….. tetapi tutur riwayat yang paling kuat , kejadian karomah di luar nalar ini terjadi pada Kyai Sika siha sehingga bergelar kyai nangka sepuh dan putranya bergelar kyai nangka muda ….

Tetapi Tutur cerita ini di perkuat kyai nangka sepuh bersaudara terkenal dengan nama gelarnya : Kyai tasek , Kyai Lawu , Kyai Sawung galing , Kyai tapa dan lainnya ….