Dalam kitab taqribul Ushul halaman 227 di jelaskan :
ولا ويشترط في الولاية. الكرامات الكونية فانها توجد في غير الملة الاسلامية ، لكن يشترط فيها الكرامات القلبية كالعلوم الالهية والمعارف الربانية
Artinya
Tidak di syaratkan dalam wali Allah harus memiliki lahiriyah, karena karomah lahiriyah itu terdapat di dalam agama selain Islam. Akan tetapi di dalam waliyullah itu disyaratkan memiliki karomah bathiniyah seperti ilmu ilmu ketuhanan dan makrifat Billah.
Karomah secara lahiriah: seperti bisa terbang di udara, berjalan di atas air, menebak kehendak orang lain, bisa menjumpai orang dalam mimpi dan sebagainya adalah bukan sebagai tanda ciri wali, lebih lebih seorang wali Kamil.
Karena keistimewaan seperti itu bisa terjadi terjadi di luar orang yang beragama Islam seperti para empu, pendeta, Rahib Rahib, raja Hindu kuno dan lain lain. Bahkan ada doa doa yang khusus atau asma/ajian untuk keistemewahan lahir seperti itu. Bahkan menurut taqribul Ushul:
واما الكرامات الكونية كالمشي على الماء والطيرانى فى الهواء والاحتجاب عن الابصار واجابة الدعوة فى الحال والكلام على الخاطر والاخبار بالمغيبات الاتية والاخذ من الكون قد صارت من الرهبانية والمتلفسة الذى استدرجهم الحق تعالى بالخذلان من حيث لا يعلمون
Artinya:
Dan adapun karomah lahiriyah seperti bisa terbang di atas air, terbang di angkasa, menghilang dari pandangan mata, doanya dikabulkan seketika, menebak apa isi hati orang, mengetahui kedatangan orang yang pergi jauh, dan mengambil sesuatu dari keadaan ruang kosong adalah bisa terjadi oleh para Rahib, ahli filsafat, yang ditarik berangsur-angsur oleh ke arah kebinasaan dan keterlantaran dari arah yang tidak diketahui.
Dalam kitab nafakhotur rabbaniyah halaman 17:
قال السرى السقطى رضى الله عنه : من علامات استدراج العبد عماه عن عيبه واطلاعه على عيوب الناس
Artinya
Imam siri suqthi berkata: termasuk dari beberapa yang tandanya seorang hamba Allah di istidraj adalah tidak dapat kejelekan dan aib dirinya sendiri, melainkan selalu melihat dan mengoreksinya aib orang lain.
Di katakan yawaqith jus 2 halaman 101 di jelaskan:
الكمل يخافون من وقوع الكرامة على أيديهم ويزدادون بها وجلا وخوفا لاحتمال أن تكون استدراجا
Artinya:
Para waliyullah yang Kamil itu semua takut akan terjadinya karomah lahiriyah dan mereka tambah takut ketika mereka memiliki nya. Karena patut di duga bahwa karomah itu istidraj oleh Allah SWT kearah kebinasaan sedikit demi sedikit.
Inilah perbedaan wali Allah dan dukun, kalau dukun merasa bangga dengan karomah terlebih bisa meramal dan membaca isi hati orang lain.
Di dalam kitab jamiul Ushul fil awliya’ halaman 226:
والمستدرج يستانس بما ظهر عليه من الكرامات وعند ذلك يستحقر غيره وينكر عليه ويحصل له الامن من مكر الله وعقابه فاذا ظهر شيء من هذه الاحوال على من ظهر عليه ذلك دل على أنه استدراج لا كرامة
Artinya:
Orang yang di istidraj oleh Allah kearah kebinasaan itu tandanya dia senang menampakkan keistimewaan dirinya, dan ketika itu dia akan meremehkan orang lain serta merasa selamat dari ancaman Allah SWT dan siksa Allah, maka ketika tampak keadaan yang demikian pada orang yang memiliki keistimewaan, itu menunjukkan bahwa dia adalah orang yang di istidraj oleh Allah SWT bukan karomah.
“Zaman sekarang banyak dukun Dan para normal memproklamirkan dirinya waliyullah lantaran di sebut kyai oleh masyarakat atau kebetulan dzurriyah kyai-kyai, dan kebetulan punya ilmu tertentu untuk menebak seperti terawangan dll”.
Seorang wali Allah yang sudah mencapai ciri-ciri sebagaimana penjelasan diatas yaitu bersih hati, bersuluk ilmu tasawuf dan mendzauqi makrifat Billah.
Adapun ciri ciri secara lahiriah seperti punya kesaktian atau karomah, keanehan atau kehebatan lahiriyah bukan menjadi dasar pemiliknya adalah wali Allah, karena amal perbuatan wali Allah yang hakiki selamanya tidak pernah bertentangan dengan syariat Islam, seperti menolak kewajiban menegakkan kekhalifahan dan syariah dan lain sebagainya.
Di katakan dalam kitab risalah Qusyairi halaman 14 :
لو نظرتم إلى رجل أعطى من الكرامات حتى يرتقي في الهواء فلا تغتروا به حتى تنظروا كيف تجدونه عند الأمر والنهى وحفظ الحدود واداء الشريعة
Artinya:
Ketika kalian melihat seseorang yang di beri karomah oleh Allah sehingga bisa terbang di angkasa, maka jangan tertipu sampai engkau melihatnya bagaimana dia melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya serta menjaga hukum dan menegakkan syariat Islam.
Dan adapun syarat wali Allah Kamil sebagaimana di katakan dalam kitab hadiqatun nadiyyah juz 1 halaman 172:
ان الولاية مشروطة بقراءة الكتاب والسنة على المشايخ وتعلم العلوم الظاهرة التى هى مادة الفهم في ذلك عند المحجوب من أهل الغفلة كما يظنه كثير ممن يطالع هذا الكتاب وكان ذلك شرطا في الارشاد واقتداء المريدين به ليتيقن المطابقة ويصير على بصيرة في امره فانها حالة الداع الى الله كما قال تعالى ،: قل هذه سبيلى ادعو الى الله على بصيرة أنا ومن اتبعنى …
Artinya:
Sesungguhnya menduduki maqam waliyullah (yang Kamil mukammil) itu syaratnya menguasai isi Al Qur’an dan hadits nabi Muhammad SAW dan menguasai pula ilmu dzahir yang menjadi materi modalnya memahami isi Al Qur’an dan hadits (ilmu nahwu dan Sharaf). Demikian juga menjadi syarat wali Allah yang membimbing masyarakat menuju makrifat dan menjadi panutan menuju kebenaran yang sesuai dengan Al Qur’an dan hadits dan mengajak orang menuju sadar kepada Allah dengan dasar dan alasan yang jelas, seperti firman Allah: katakanlah wahai Muhammad … Inilah jalanku, aku dan orang orang yang mengikutiku mengajak ( kamu ) kepada Allah dengan hujjah yang jelas”.
Para waliyullah berbeda dengan para rasul, sedang para Rasul Allah wajib mendzahirkan karomah karena mereka punya misi tugas suci risalah, para waliyullah tidak.
Dalam kitab yawaqith jus 2 halaman 104:
ان الرسول يجب عليه اظهار المعجزة من أجل الدعوة إذا توقف إيمان قومه عليه بخلاف الولى لا يجب عليه اظهار الكرامة انما يجب عليه سترها هذا ما عليه الجماعة
Artinya:
Sesungguhnya seorang rasul itu wajib mendzahirkan mukjizat nya untuk dakwah ketika kaumnya tidak mempercayainya, berbeda dengan seorang wali Allah dia tidak wajib mendzahirkan karomah nya. adapun yang wajib bagi wali Allah adalah merahasiakannya, demikian itu kesepakatan ulama tasawuf.
KH Hasyim Asy’ari dalam kitab duraril muntasirah berkata:
لو قدر على الولى أن يدفن نفسه لفعل
Artinya:
Seandainya seorang wali Allah itu mampu mengubur dirinya dalam tanah (takut di ketahui orang sehingga di cabut maqamnya) niscaya dia melakukannya.
Inilah penjelasan Al-Faqir tentang seorang wali Allah SWT yang benar-benar wali. Berbeda dengan para dukun yang mengaku wali, para waliyullah takut kepada Allah mendzahirkan karomah sedang para dukun bangga dengan karomah bahkan dicari. Para waliyullah takut menebak sesuatu apalagi melihat aib orang lain para dukun sibuk dengan ramalan dan menebak dan membuka aibnya orang lain. Para waliyullah dasar suluknya mengikuti Rasulullah SAW dengan sanad silsilah yang jelas dan bersambung para dukun dasarnya ilmu perewangan, primbon, tenung (menebak sesuatu yang belum terjadi) ajian, terawangan, kejadukan, kesaktian, dan kebatinan tidak ada sumber silsilah yang jelas kepada Rasulullah SAW. ( Alhamdulillah ilmu-ilmu di atas Al faqir punya juga tetapi tidak untuk di jadikan pedoman dan pegangan).
“Para waliyullah sibuk dengan dzikir para dukun sibuk dengan amalan yang mendatangkan tamu dan harta .
Intinya para waliyullah siap berjuang dan mati di jalan Allah SWT, dengan memperjuangkan syariah para dukun meremehkannya dan seterusnya”.
Semoga bermanfaat,
Saroka 13 Muharram 1443 Hijriyah.
Budayawan suluk,
Lukman Haris Rahman
