Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya,
اَلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوۡبُهُمۡ بِذِكۡرِ اللّٰهِ ؕ اَلَا بِذِكۡرِ اللّٰهِ تَطۡمَٮِٕنُّ الۡقُلُوۡبُ
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Siapa yang Allah kehendaki taufiq kepadanya maka Allah mudahkan dirinya banyak berdzikir/mengingat Allah sehingga hatinya menjadi tenteram tidak dibayang-bayangi oleh kegelisahan dan ketakutan.
Maka kiat mengatasi kegundahan hati dan kesempitannya hanyalah dengan mengingat Allah karena hanya Allah yang menguasai hati hamba-Nya dan yang paling utama adalah,
1). Merealisasikan tauhid yaitu dengan mempelajarinya dan menjernihkannya dari segala jenis syirik jali (tampak) dan syirik khofi (samar).
2). Mendirikan shalat sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di samping shalat fardhu shalat yang sunnah terutama shalat malam.
3). Menghadiri majelis dzikir dan ilmu karena Allah akan menurunkan kepadanya sakinah, rahmat, dinaungi malaikat, dan Allah menyebut-nyebut dirinya di antara penduduk langit, dan sungguh sangat baik apabila di dalam majelis tersebut adalah majelis thariqat karena dalam majelis thariqat terkumpul antara majelis dzikir wal ilmu, Adab akhlaq dan spritual.
4). Mentadabburi Al-Qur’an yaitu membaca Al-Qur’an dengan mempelajari kandungan maknanya dan mengamalkannya.
6) Belajar hadist Rasulullah SAW dengan mempelajari isi kandungan hadist dan berusaha mengamalkannya.
7 ). Berdoa, beristighfar, bershalawat kepada Nabi, dan banyak berdzikir yang disertai penghayatan akan keagungan Allah dan kesucian-Nya.
8). Duduk bersama orang-orang saleh , guru , apalagi Mursyid agar dapat wejangan mereka.
9). Hindari pergaulan dengan orang orang dzalim, ahli maksiat dan orang orang serakah apalagi orang orang yang membenci Mursyidnya.
Semua itu asupan bergizi bagi hati yang akan menguatkannya, menenangkannya, mempertebal keimanan, dan mengusir segala penyakitnya.
“Jika hati tidak diisi dengan mengingat Allah maka lambat laun hati itu akan mengeras seperti batu, sukar menerima nasihat, dan yang dipikirkannya hanya hal-hal yang tidak berguna”.
Kita tidak tau bagaimana akhir dari perjalanan kita, memohon istiqamah pada Allah agar kita tetap selalu berdzikir dan berjuang di jalan allah SWT, aku tau perjuangan ini tidak ada bayarannya aku tau kita bukan wali songo, tetapi alangkah istimewanya apabila kita mengikuti perjuangan para wali songo atau para mujahidin lainnya.
Lukman Haris Rahman Saroka,
