Setelah giri kedaton di taklukkan oleh Mataram ada beberapa keturunan giri kedaton meninggalkan tanah kelahirannya untuk berkelana ke pelosok tanah Jawa dengan cara menyamar dan menuntut ilmu.
Mereka adalah : jayeng resmi, jayeng sari dan seorang wanita bernama ken Rancangkapti.
Jayeng resmi bergelar syech among rogo dan melakukan tapa lelana ( musafir) dari sekitar keraton Majapahit, blitar, tuban, Demak, gunung merapi sampai ke Bogor dan daerah Pasundan.
Dalam laku lelana ini beliau memperoleh kedewasaan spritual setelah di bimbing beberapa orang waskita dan ahli makrifat.
Memperoleh ajaran tassawuf Syekh lemah abang dan ilmu tassawuf lainnya.
Untuk mencapai makrifat menurut beliau kita harus memerdekakan diri dari rasa kumingsun yaitu merasa diri lebih unggul dari orang, sebab trah keturunan, ilmu, harta, kekuasaan, jabatan dan lain-lain.
Jangan terpenjara dengan rasa kumingsun, diri harus merasa lebih hina dari pada orang lain.
Tak ada gunanya nyebut nyebut nasab keturunan kalau tidak mengikuti jejak para leluhur waskita.
Tak ada guna membanggakan sesuatu yang akan musnah semisal harta, jabatan dan lain-lain.
Setelah rasa kumingsun hilang harus belajar khusyuk dan tawadhu.
Kemudian masuklah pada sujo suri yaitu kesunyian. Dengan cara banyak melakukan tafakur, dyana atau muraqqabah.
Agar mudah tercerahkan harus sumeleh dan sumarah, Paramita artinya; kehidupannya lahir bathin berjuang menuju ke arah ketemu spritual ( Akmaliyah) dan harus bersikap : legowo, Susilo, waspada, tapa salira dan wicaksono.
Dekat jauh nya kita tergantung pada pandangan, usaha keras / mujahadah dan kegiatan yang tekun / istiqamah kita sendiri.
Dan harus melewati empat macam jalan yang harus di lakui ;
1.Syariah:
Analoginya di pakai pada hutan rimba, tumbuhan sangat lebat, sehingga suasana amat gelap. Sebagian tumbuhan harus di tebang untuk membuat jalan setapak menuju cita cita.
2.Thariqat:
Setelah selesai membuat jalan, hendaklah kesempurnaan hidup di cari dan di laksanakan sepanjang jalan tadi.
3.Hakikat:
Hal di ibaratkan obor yang menerangi jalan tersebut.
4.Makrifat:
Sampai tujuan, orang ini selalu mawas diri dan sampai pada kesempurnaan.
Kemungkinan syech among rogo bertemu nyai tambang Raras dan mempersunting dia untuk di jadikan istri.
Dalam pengembaraannya beliau di temani pembantunya : gathak dan gathuk .
Dan nyai tambang Raras mempunyai pembantu wanita bernama nyai Centhini yang juga menjadi murid Syekh among rogo.
Juga Syekh among rogo memberikan wejangan :
Pada level syariah ibadah adalah meng hormati dan hidup sesuai dengan hukum hukum agama.
Langkah demi langkah, kesadaran awal harus di insafi lebih dalam dan di tingkatkan lalu pada tahap hakekat, Syekh among rogo melihatnya sebagai usaha menjunjung tinggi dzat yang di landasi kesungguhan hati ( mujahadah) pada waktu dan menurut aturan yang telah di tetapkan.
Sementara makrifat terkandung usaha menjernihkan ibadah kepada Allah SWT yang di landasi oleh tubuh yang suci. Perkataan dan perbuatan harus seimbang. Tauhid adalah kebulatan tekad yang terkandung dalam sanubari hingga memuncak pelenyapan segala pandangan ( fana) , bahkan segalanya fana yang wujud hanya Allah SWT.
Pelenyapan segala bahkan sampai pada kedirian sampai musnalah Aku ( ego ).
Disunting dari naskah tulisan kyai bakri serat atmo rogo.
Oleh,
Kyai Ageng palanggaran
