Dialog Phatmarasa dengan Kyai Penghulu: Bagian Serat Phatmarasa

 

Dialog Phatmarasa dengan Kyai Penghulu: Bagian Serat Phatmarasa

Diterjemah bebas,
By
Syaikh Lukman Haris Rahman As-Syatthor (Kyai Ageng Palanggheren)

Phatmarasa menjalankan laku….
Lelana tanpa lelah cari ilmu….
Juga mencari djati diri…
Di balik mustahil ada yang hakiki ..
Bertemu dengan kyai besar…
Dengan padepokan megah dan besar…
Kyai Penghulu namanya yang masyhur…
Terhormat dengan sorban besar..
Kyai ku…..
Ajarkan pada kami ilmu sejati…
Agar aku jadi santri yang ngerti…
Akan hakikat budhi…
Jati diri dan Tuhan sejati…

Kyai Penghulu memandang sinis…
Hai gembel mau apa kau ke sini?
Ku tak rela kau berada di sini…
Di sini tempat orang terhormat..
Pejabat pedagang dan orang penting…
Phatmarasa meminta memelas…
Untuk di ajarin ilmu yang ikhlas…
Jalan menuju Tuhan sejati…

Hai gembel! Aku sayang pada ilmuku…
Tak seharusnya di ajarkan padamu..
Orang yang mengundang ku…
Untuk bicara mengulas ilmu…
Mahal membayar ku …
Sehingga ku masyhur Kyai Penghulu…
Mubaligh kondang penuh ilmu…

Pergilah kau dari masjid ku gembel…
Ku tak sudi ilmuku menempel…
Pada dirimu yang gembel ….
Jangan berlama-lama di hadapanku…
Karena sebentar lagi banyak tamu…
Para pejabat dan orang penting…
Bukan sepertimu yang sinting…

Kyai Penghulu… Ku mohon di nasehati…
Tentang Samudra luas…
Di mana tepinya?
Tentang papan tanpa tulisan…
Bunga Teratai tanpa telaga…
Apa gerangan maknanya…
Mohon bimbing penjelasannya…
Sebenarnya kita siapa…
Kyai, kita berada di mana?

Lampu menyala tanpa sumbu…
Daun hijau tanpa batang…
Muadzin tanpa bedug…
Memintal sekali jadi..
Tanggal satu, tapi bulan sudah purnama? …
Kyai.. Mohon jelaskan maknanya…
Uraikan maksudnya…
Sejelas jelasnya.. . .

Pun huruf paling awal, apa gerangan…
Berapa jumlah rambut mu…
Juga berapa jumlah nafasmu..
Dengan perlahan Kyai Penghulu terdiam bisu…
Dengan mata memerah nahan marah…
Mau jawab apa, memang kurang ilmu…
Dengan tumpukan kitab-kitab merasa puas…

Setelah menghitung nafas…
Ia berkata dengan lirih…
Gembel ku tidak ngerti..
Uraikan dengan sopan dan jelas…

Phatmarasa mengungkapkan…
Lautan tanpa tepi…
Mana yang bukan Allah?
Segala yang ada..
Sirna semuanya…
Hilang pada Dzatullah yang Meliputinya…

Adapun papan tanpa tulisan..
Adalah Allah semata…
Tak ada manusianya…
Tulisannya tak terpandang…
Hanya papan saja yang kelihatan…
Itulah lambang adanya yang tunggal…
Wujud Allah yang maha Agung…
Wujud tunggal rasa manunggal…

Hidup tunggal, manunggal rasa jati…
Tenggelam pada samudera tiada tepi…
Samudera wahdat rasa jati..
Menyelam pada yang hakiki…

Kemudian bunga Teratai yang abadi…
Tanpa air tanpa telaga…
Itulah ibarat ruh idhafi..
Berada tanpa tempat….
Hanya memandang wujud ilahi…
Dzat mutlak maha ada…
Tersusunya alam semesta…
Menunjukkan ada Nya…

Adapun lampu menyala tanpa sumbu…
Mencerminkan Allah berdiri sendiri…
Tak butuh tempat dan waktu…
Namun Dia menerangi…
Alam semesta dengan matahari..
Ruh dengan makrifat hati…
Juga ruh idhafi terus menyala…
Menerangi bathin tanpa sumbu…
Menyala terus tanpa minyak dan api…
Lihat kyai.. Indah sekali…
Ruh idhafi perwujudan rasul djati…
Rasa murni jernih rasa jati…

Muadzin tanpa bedug…
Pribadi tak mendalami…
Batinnya agama…
Pribadi tidak tahu akan dirinya…
Ilmunya mandek pada susunan…
Kata kata dan tulisan…
Tak terbuka sedikit pun…
Jalan menuju Tuhan…

Tapi ingat lah…
Dalam tenggelam dalam Tauhid..
Tidak lah merasa makhluk…
Tidak lah merasa Khalik…

Sirna, abadi, namun tak satu …
Namun tidak ada sesuatu..
Kecuali Allah jua…
Ini Al jam’u…
Kata orang Arab sana…
Yang sampai pada sadar kalbu…

Daun hidup tanpa batang…
Ialah orang yang hidup sendiri…
Hidup manunggal dalam rasa jati…
Hidungnya hamba…
Yang jelas dapat hidayat..
Ternyata hidup semu…
Karena bisa hidup lantaran Tuhan…
Sedangkan Allah hidup tanpa nyawa…

Makna memintal sekali jadi…
Adalah ” Kun ‘ sang firman…
Hanya berfirman sekali…
Segala makhluk sudah menjadi..
Jadikan alam semesta ini…
Menunjukkan kuasa firman Tuhan sejati…
Tuhan sangat dekat sekali…
Bagaimana mungkin mencari…
Kalau masih ragu samar dalam hati…

Tanggal satu tapi purnama…
Menjelang surut karena gerhana. .
Itulah makna kekuasaannya. .
Yang akan datang bagai masa silam ….
Dalam gaibul guyub sebelum adamu….
Seperti di liputi kerusakan ….
Tapi tiada Nya itu ada…

Sedangkan huruf paling awal…
Adalah alif tansur namanya…
Tajalli diri Nya…
Makna alif tansur itu…
Bahwa Nur dzat adanya…
Keberadaan alif itu…
Raganya Muhammad..
Rasul djati rasa jati…
Itulah insan kamil..
Nurnya terang dalam diri sejati…

Jumlah petunjuk tidak dapat di hitung…
Awal kalam hakikatnya Muhammad…
Sumber semua ruh..
Sumber segala hidayat…
Sumber segala makrifat…
Kemudian Muhammad yang hidup..
Lahir di Mekkah…
Yang di sifati oleh Muhammad yang batin…
Mengikutinya hati akan hidup…
Selamat mencapai kesempurnaan…

Kyai jadi Penghulu…
Itulah pengakuan tuan…
Hakikatnya Penghulu sejati…
Yaitu Muhammad yang menjadi nabi…
Seandainya tidak sepi…
Dari pamrih dan iri hati..
Bukan penerus perjuangan nabi…
Apalagi Kyai pewarisnya nabi…