Kata kunci: bahwa KEJAWÈN adalah pandangan hidup orang Jawa yang menekankan pada ketentraman batin, keselarasan, keseimbangan, sikap menerima terhadap semua peristiwa yang terjadi, sambil menempatkan individu dibawah masyarakat dan alam semesta.
Setelah Islam menjadi agama resmi kesultanan kesultanan di Jawa dan masyarakat Jawa berbondong-bondong masuk Islam, maka Kyai Ageng Selo leluhur para penguasa Mataram Islam membukukan ajaran-ajaran orang Jawa (kejawen) dan diselaraskan dengan agama Islam dengan bingkai ajaran tashawuf Akmaliah.
Thariqat Akmaliah adalah thariqat untuk mencapai kasampurnaan diri, yang di hayati oleh kyai Ageng Selo, Kyai Ageng pengging, Kyai Ageng Tingkir dan para murid murid Syekh Lemah Abang yang lain.
Yang di teruskan para Sulthan di Pajang dan Mataram.
APA ISI AJARAN KEJAWÈN ?
Isi dari ajaran Kejawèn adalah nilai-nilai luhur, etika dan spiritualitas yang terinspirasi dari tradisi masyarakat Jawa yg secara turun temurun mewarisi kekayaan, pengetahuan dan kebudayaan Kejawèn ini.
Secara umum masyarakat Jawa diajarkan untuk menjalani hidup dengan mengikuti:
a). TÔTÔ URIP atau tata hidup, yang bermakna bahwa dalam kehidupannya seseorang harus merencanakannya dengan baik agar tercapai apa yang dicita-citakannya. Jadi kita sebagai manusia harus ada rencana jangka pendek dan jangka panjang dalam kehidupan .
b). TÔTÔ KRÔMÔ, yang bermakna bahwa seseorang harus memiliki perilaku sopan santun dan unggah-ungguh dalam hidup bermasyarakat.
Sehingga dalam bahasa Arabnya menjunjung tinggi nilai-nilai Akhlaqul Karimah.
c). TÔTÔ LAKU, yang bermakna bahwa dalam setiap langkah kehidupannya seseorang harus memperhitungkannya dengan cermat.
Untuk memperoleh hidup yang bahagia dunia akhirat dengan jalan Akmaliah, maka seseorang harus mampu memahami jagad gedé (alam semesta) dan jagad cilik (diri pribadi).
Setelah mampu memahami kedua jagad itu, maka harus mampu pula untuk menyatukannya agar diperoleh keselarasan hidup.
Konsep filosofi ini diwujudkan dalam 5 hal, yaitu :
1). MANUNGGALÉ KAWULÔ GUSTI (bersatunya manusia dengan Sang Pencipta), yang diwujudkan dalam bentuk melenyapkan egoisme dan ke-akuan sehingga akan tercapai hidup yang menghidupi (urip yô nguripi).
Berikut 4 jalan mistik atau laku batin yang harus dilalui :
a). PANEKUNG, artinya semèdi (Muraqqbah , istigraq , fana wal baqa ) secara khusyuk dan tak tergoda oleh apapun, sesuai petuahnya wong Waskita (guru/Mursyid).
b). DAYANA, artinya tekad kuat lahir bathin untuk sampai kepada Tuhan, dalam bahasa Arab di sebut همة العالية sehingga kuat mujahadah dan riyadhah (laku).
c). SUMARAH /SUMÈLÈH, artinya tidak mengharap apapun terkecuali haknya, ikhlas dan ridho.
d). PARAMITA, artinya kehidupan lahir batin yang menuju kesempurnaan, yaitu sikap legôwô (ikhlas), susilô (sopan), waspôdô ورع (hati2), tepô slirô (mawas diri) مرقبة dan wicaksônô (bijaksana).
2). MEMAYU HAYUNING BAWÔNÔ (menjaga kehidupan yg penuh keindahan di bumi), yang dilakukan dengan dan untuk memberikan rasa tenteram, tidak menjajah dan terjajah, nyaman serta mengedepankan prinsip kemanusiaan (semua harus dihormati tanpa melihat status dan pangkat derajatnya).
Juga ajaran ini mengajarkan kita agar selalu menjaga kelestarian ekosistem dan alam, jadi tidak boleh mengeksploitasi alam sehingga terjadi kerusakan ekosistem.
3). SEPI ING PAMRIH RAMÉ ING GAWÉ (berbuat kebaikan kpd sesama yg tanpa mengharap imbalan tp dgn dasar ketulus ikhlasan).
Suka menolong sesama tanpa mengharapkan imbalan atas pertolongannya.
4). SANGKAN PARANING DUMADI (memahami darimana kita ini berasal, dan kemana nantinya kita akan kembali). Menghayati makna انا لله وانا إليه رجعون
5). BUDI LUHUR (berakhlak mulia).
Demikianlah sekilas tentang “APA ITU KEJAWÈN” dan “APA ISI AJARAN ORANG JAWA YANG DI ILHAMI OLEH AJARAN MBAH SEMAR “ yang telah di kemas Panembahan Senopati dengan ajaran Akmaliahnya.
Lukman Haris Rahman Saroka,







