Sekarang ini banyak yang kecewa terhadap parpol, kecewa terhadap para pemimpin dan wakil rakyat yang lahir dari rahim demokrasi.
Kecewa dengan pernyataan kepala eksekutif yang menyatakan bahwa DPR boleh melabrak aturan MK dan masih banyak sejuta kekecewaan lainnya.
Inilah kekecewaan yang terus berlanjut pada sejuta kekecewaan setelahnya, apa kita sebagai muslim hanya menggerutu atau mengumpat terus? Apakah kita tidak pernah berfikir apa akar dan sumber dari segala varian kekecewaan itu sendiri?
Kita sebagai muslim mari berfikir secara jernih dan logis. jangan dengan kekecewaan kita menyerah pasrah dan menyalahkan Allah SWT. Sebenarnya biang kerok, akar dan sumber permasalahan yang ada karena kita meninggalkan Al Qur’an sebagai pedoman hidup.
Dan menjadikan demokrasi pedoman dan harapan hidup , apakah kita lupa bahwa demokrasi adalah faham dan ajaran yang kontra dengan Al Qur’an.
Dalam demokrasi aturan atau undang-undang di buat rakyat yang di wakili wakil rakyat di perlemen, dan apakah wakil rakyat itu betul betul memikirkan urusan rakyat ? Dan apakah mereka jauh dari kepentingan syahwat pribadi yang busuk? Apakah mereka manusia Maksum sebagaimana layaknya para nabi?
Kita muslim selayaknya kita harus menetapi isi syahadat kita, yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dalam makna kita siap di atur oleh aturan Allah SWT yang adil baik sesuai dengan selera syahwat atau tidak.
Kalimat kedua kita bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah SWT. Berarti kita siap meneladani dan mengikuti petunjuk Rasulullah SAW karena beliau tidak berbicara dan bersikap menurut hawa nafsu tetapi Wahyu yang di wahyukan pada beliau SAW.
Demokrasi adalah sistem hidup atau tata negara yang di adopsi oleh filsuf Yunani Aristoteles, Plato, Socrates dan lain lain.
Yang mereka sendiri menyatakan bahwa demokrasi adalah sistem yang penuh cacat dengan slogan dari rakyat untuk rakyat yang sejatinya menurut mereka dari pemilik modal kepada pemilik modal.
Kenapa kita muslim tidak melirik kepada sistem hidup yang di atur oleh kitab suci kita sendiri yaitu Al Qur’an yang datangnya dari Allah SWT yang suci dari cacat baik laffzan maupun makna.
Kenapa kita Al Qur’an phobi ?Kenapa kita meletakkan hukum yang diproduksi syahwat manusia yang multi cacat di atas segalanya.
Bukan Kalamullah yang suci dari cacat dan kepentingan pribadi yang bisa membawa kita kepada kemuliaan, kesejahteraan sosial dan keadilan hakiki dzahir bathin.
Mengapa kita masih berharap pada demokrasi yang multi cacat yang jelas jelas dzalim untuk kesejahteraan dan keadilan sosial bagi kita semua .
قال تعالى: ومن لم يحكم بما انزل الله فاولىك هم الظالمون
Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah maka mereka adalah orang-orang yang dzalim.
Sesuai dengan teori dan fakta yang telah terjadi maka nyatalah bagi kita semua mengharapkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat dengan demokrasi adalah outopis di siang bolong.
