“wahai diri bagaimana nasibmu kelak?”. “Boleh saja kau pandai menasehati orang lain, tetapi nasib mu masih misteri?”. “Engkau sendiri tidak mengetahui nasib mu kelak !”, “Semoga saja Allah SWT mengampuni dosa dosa mu”.
“Wahai diri ingatlah pada manusia terbaik, kekasih pilihan Allah SWT Muhammad Saw selalu menangis karena takutnya akan murka Allah SWT padahal beliau sudah di jamin oleh Allah SWT bahkan dalam surat Al-Fath, Allah SWT memproklamirkan bahwa Beliau telah diampuni oleh Allah yang telah lalu dan kemudian”.
“Lihatlah Khalifah Abu Bakar yang menurut Rasulullah Saw andaikan iman seluruh manusia di timbang dan iman Abu Bakar di timbang masih jauh lebih berat iman Abu Bakar , tetapi selalu siang dan malam beliau nangis karena takutnya murka Allah SWT , padahal beliau di jamin masuk sorga ( hadist Baginda Rasulullah ) , semua para sahabat yang Allah SWT vonis يحبونهم ويحبونه Allah SWT mencintai mereka , mereka mencintai Allah SWT . Tetapi selalu menangis dan meratap karena takut murka Allah SWT” .
“Sedangkan aku banyak tertawa, mana rasa takutmu?”
Wahai diri coba renungi ungkapan ulama yang lebih alim dan lebih beribadah dari pada dirimu
(1). Fudhail bin ‘Iyadh رحمه الله berkata:
إياك أن تدل الناس على الله ثم تفقد أنت الطريق واستعذ بالله دائما أن تكون جسرا يعبر عليه إلى الجنة ثم يرمى في النار
“Berhati-hatilah engkau, jangan sampai engkau bisa menunjukkan manusia kpd Allah, kemudian engkau sendiri tersesat. Mohonlah selalu perlindungan kepada Allah. Jangan sampai engkau menjadi jembatan yang dilalui menuju ke Surga, sementara engkau sendiri justru nanti dilemparkan ke Neraka” (Siyar VI/291)
(2). Imam Ibnul Jauzi رحمه الله berkata:
“Sungguh suatu hari aku di majelisku, maka aku pun melihat orang-orang di sekitarku lebih dari 10 ribu manusia yg telah hadir dan tidak seorang pun dari mereka kecuali terenyuh/luluh hatinya, atau telah meneteskan air mata (karena nasehatku). Kemudian aku pun berkata pada jiwaku: “Bagaimanakah nasibmu kelak apabila mereka seluruhnya justru selamat (di akhirat), sedangkan engkau celaka !!?” (Shaidul Khaatir hal 78)
(3). Syaikh Muqbil رحمه الله berkata:
“Kita khawatir bahwasanya orang-orang belajar kepada kita tetapi justru mereka yang masuk Surga, sementara kita justru hanyalah ada di depan pintu-pintu Surga, atau –kita berlindung kepada Allah– kita akan dibawa ke tempat yg lain (Neraka). Maka hendaknya kita takut terhadap riya’ menimpa diri kita, serta hendaknya kita pun merasa takut jangan sampai tertipu oleh diri kita sendiri” (Qam’ul Mu’aanid hal 147)
“Ya Allah semoga aku tidak tertipu dengan diriku sendiri, semoga engkau menyelamatkan ku dari siksa MU semoga aku di jauhkan dari neraka MU, semoga aku selamat dari murkaMu, begitu juga selamat kan keluarga, anak cucu, murid murid ku, sahabat-sahabatku dan simpatisanku dari neraka dan murka MU” ….
ياسلام يارحمن يارحيم ياغفار ياغفور يارؤف ذوالجلال والاكرام
Lukman Haris Rahman Saroka,
