Tanda Seorang Guru Kamil Mukammil

 

Seorang guru Kamil yaitu sempurna makrifatnya dzahir bathin, mempunyai beberapa syarat, diantaranya:

من لم يحفظ أي يعلم القرآن بكلماته ومعانيه وحدوده واحكامه وظاهره وباطنه ومعارفه وحقاءىقه واسراره ولم يكتب الحديث النبوي بلفظه ومعناه وظاهره واسراره وانواره لا يجوز لاحد أن يقتدي به في أمر السلوك والوصول الى الله لأن علمنا هذا الذى هو علم الحقاءىق الالهية والمعارف الربانية ومذهبنا هذا الذى هو مذهب السلف الصالحين والخلف المتقين مقيد بالكتاب والسنة

Barang siapa yang tidak alim Al Qur’an dan maknanya (seperti ilmu nahwu Sharaf Badi’ bayan, ma’ani, ulumut tafsir dan asbabun Nuzul) dan mengerti definisi hukum fiqih secara dzahir bathin dan ilmu ilmunya (seperti nasikh mansukh) serta hakikat dan rahasia-rahasianya, bahkan tidak pernah belajar ilmu hadist Nabi SAW (shahih dan dhaifnya) lafadz dan artinya secara dzahir bathin, rahasia rahasianya dan beberapa nurnya. Maka janganlah diikuti atau di jadikan guru (Mursyid) dalam wushul makrifat Billah. Karena ilmunya para ulama Shalihin di bidang hakikat dan makrifat Billah selalu diikat dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.  (Hadiqatun Nadiyyah: juz 1 hal 170)

Karena persyaratan guru yang alim dzahir bathin, syariah dan hakikat, Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW yang bisa menyempurnakan ibadah, suluk, wushulnya dan istiqamahnya para murid, inilah yang disebut mukammil.

Juga harus memiliki tanda :

قال السيد عبد الله الحداد ؛ الرجل الكامل هو الذى يسامح في حقوقه ولا يسامح في حقوق الله

Seorang yang sempurna makrifatnya tidak menuntut hak nya (karena takut suul adab kepada Allah SWT) tetapi tidak meremehkan hak Allah SWT.

Artinya beliau tidak marah kalau ada manusia tidak patuh pada dirinya tetapi akan marah kalau ada manusia tidak patuh atau bermaksiat kepada Allah SWT.

Adapun tingkat yang lebih tinggi lagi di sebut Akmal (lebih sempurna) bukan hanya Kamil mukammil tetapi Akmal yang jalannya atau thoriqatnya disebut akmaliah atau thoriqat Akabiril Aulia, yang tanda gurunya tersebut:

قال الشيخ على الخواص : لا يكمل عبد في مقام العرفان حتى يصير بجتمع برسول الله أي وقت شاء

Tidaklah sempurna maqam makrifat seorang hamba (Akmal) sehingga mereka sudah bisa berkumpul dengan Rasulullah Saw setiap waktu yang di kehendaki. (Saadatud Daraini 439)

Jadi seandainya ada orang orang yang mengklaim dirinya Mursyid Thoriqat Syathariyah apalagi Akmaliah tetapi tidak mencukupi syarat dzahir dan batin maka perlu dikaji lagi klaimnya takut-takut ajaran, tindakannya dan pola hidupnya bertentangan dengan syariat Islam, karena di zaman akhir banyak orang orang yang mengaku ahli Thoriqat tetapi menggunakan Thoriqat untuk mendekati penguasa sekali pun penguasa dzalim, mengaku ulama dan menjadi pengurus perkumpulan ulama tetapi menjadi penjilat kepada kedzaliman.

 

Lukman Haris Rahman Saroka,