Zuhud Terhadap Dunia

Rasulullah Saw bersabda:

كن في الدنيا كانك غريب أو عابر سبيل ، وكان ابن عمر يقول : إذا امسيت فلا تنظر الصباح فاذا اصبحت فلا تنظر المساء وخذ من صحتك لمرضك ومن حياتك لموتك

Jadilah engkau di dunia seakan akan engkau orang asing, atau orang yang sedang menempuh perjalanan, Ibnu Umar berkata:

Jika engkau di sore hari jangan menunggu pagi, dan jika engkau di pagi hari jangan menunggu sore, manfaatkanlah masa sehatmu untuk masa sakitnya, dan masa hidupmu untuk kematianmu.
( HR Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Dalam riwayat Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah sesudah lafadz : أو عابر سبيل terdapat tambahan :

وعد نفسك في أهل القبور
Dalam hadits ini Rasulullah Saw memberi perumpamaan bagaimana seharusnya kita memposisikan di dunia:

  1. seakan kita orang asing .
  2. kita seperti orang yang sedang menempuh perjalanan .

 

Imam At-Thayyibi sebagaimana di kutip Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani, menjelaskan:
” Orang yang berjalan di dunia diserupkan orang yang terasing yang tidak memiliki tempat tinggal. Kemudian beliau mengungkapkan perumpamaan yang lebih tinggi diserupakan dengan orang yang menempuh perjalanan. Karena orang asing kadang kala tinggal di negeri asing, berbeda dengan orang yang menempuh perjalanan menuju negeri yang jauh, sepanjang perjalanan itu terdapat lembah-lembah yang membinasakan, gurun-gurun yang mencelakakan dan begal jalanan, maka orang yang demikian tidak akan tinggal walaupun sejenak, oleh karena itu Ibnu Umar langsung menimpali dengan kata kata “jika engkau sore jangan menunggu pagi ……

Dan sabda Rasulullah SAW: “dan hitungkan dirimu termasuk ahli kubur”

Maknanya teruslah melangkah dan jangan engkau bosan, sesungguhnya jika engkau lemah atau lalai maka engkau akan terhenti di tengah jalan (tidak sampai tujuan) dan binasa di lembah lembah itu. (Fathul Bari Syarh shahih Bukhari)

Imam Nawawi berkata :
“Janganlah engkau cenderung kepada dunia dan jangan engkau jadikan dunia sebagai tempat menetap, jangan berbicara kepada dirimu sendiri bahwa engkau akan menetap di dunia serta jangan mempertautkan diri dengan dunia sebagaimana orang asing tidak akan menautkan diri dengan selain tanah airnya”.
(Syarh Arbain Nawawiyah)

Hadist ini merupakan isyarat untuk membangkitkan sikap ZUHUD di dunia dan mengambil bagian harta sekedar cukup untuk bekal (tidak berlebihan), sebagaimana seorang musafir tidak membutuhkan lebih dari apa yang bisa mengantarkannya pada tujuan perjalanannya, maka demikian pula seorang muslim di dunia tidak membutuhkan lebih dari apa yang bisa mengantarkannya kepada tujuan akhirat.

Hadist ini merupakan pokok dalam mendorong untuk mengambil jarak dengan dunia dan bersikap qana’ah dengan bagian harta sekedar cukup untuk bekal hidup.

Hendaknya setiap muslim selalu ingat pesan Rasulullah SAW untuk selalu merasa asing dengan dunia, ia tidak akan membiarkan hatinya tetambat kecintaan kepada tempat asing itu sehingga melupakan tanah air hakikinya yaitu negri akhirat, hatinya tidak dibiarkan tertambat kepada dunia sehingga merasa berat untuk menjauhi, melepaskannya dan meninggalkannya.

Dan hendaklah setiap muslim selalu ingat bahwa di dunia hanya numpang lewat saja, sebentar saja setelah itu menghadapi maut yang memisahkan dirinya dengan dunia.

Oleh karena itu seorang muslim tidak selayaknya mencintai dunia, hanya pemburu harta dan kelezatan dunia melupakan yang abadi kampung halamannya (akhirat).

Dengan hati yang Zuhud seorang mukmin akan selalu qana’ah dengan pemberian Allah SWT dan dengan itu hatinya selalu merasa tenang dan damai.

Dan dengan Zuhud inilah seorang salik bisa makrifat Billah dengan Haq dan seorang muslim bisa selamat di akhirat kelak.

 

Tanbih:
Cara memahami suatu hadist nabi SAW

Telusuri sanad, kalau dari Bukhari Muslim pasti shahih nya tidak boleh meragukannya, kemudian fahami ulasan ahli hadits yang pakar dengan memahami kitab Syarah hadits tersebut seperti imam Nawawi, Ibnu Hajar dan lain-lain. Setelah itu pahami dengan maqalah ulama shufi kalau hadist berkenaan dengan ilmu tasawuf, kemungkinan pemahaman sendiri yang tidak kontradiktif baik lafadz atau makna hadits tersebut….. jangan meniru kaum sekuler yang mengambil hadist sepotong sepotong atau pendapatnya tidak sesuai dengan lafadz hadits atau maknanya …
Inilah cara memahami hadits secara umum,
Adapun orang khusus memahami hadist Nabi Muhammad SAW dengan bertalaqqi langsung dengan Rasulullah SAW dalam kasyf , kadang hadist itu dhaif dalam pandangan ulama hadits tetapi shahih dalam pandangan kasyf karena Rasulullah Saw yang mensahihkan, akan tetapi secara adab tidak boleh dikatakan Hadist ini shahih ke muka umum, menjaga adab dengan para ulama ahli hadits terdahulu …..
Dan saya tau diantara jama’ah yang betul-betul mengaji atau sekedar ingin tahu (dapat info) tetapi tidak boleh dijelaskan ke khalayak ramai ini ngaji beneran ini hanya pura pura ….. tetapi ada tanda secara dzahir: apabila aku mengatakan dia anak ku berarti orang tersebut murid beneran (Taslim) karena metasi walaupun bagaimana pun tetap tidak menyambung baik dzahir apalagi batin, dan jauh dari tarbiyah batinku …….

 

Lukman Haris Rahman Saroka,